Hamparan danau dengan latar belakang Gunung Batur Geosite 5, salah satu dari 28 geosite di kawasan geopark Kuburan tradisional di Desa Terunyan Salah satu komuditas hortikultura di kawasan geopark



POTENSI INVESTASI “TERUNG BELANDA”

Aspek Keuangan

a)    Asumsi dasar

Untuk menganalisis layak tidaknya usaha pengolahan buah terung belanda maka diperlukan analisis kelayakan usaha. Hasil analisis ini akan bermanfaat bagi pihak-pihak yang bermaksud memulai usaha baru maupun yang ingin memberikan bantuan modal untuk mengembangkan usaha ini. Dalam menganalisis kelayakan ini diperlukan asumsi-asumsi seperti tabel di bawah.

 

Tabel 1

Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan Tahun 2014

 

No

Asumsi

Satuan

Jumlah/Nilai

1

Periode analisis

Tahun

5

2

Produksi per hari

Liter

100

3

Tingkat suku bunga

persen

16

4

Hari kerja per bulan

Hari

25

5

Harga jual produk/liter

Rp

19.700

6

Upah tenaga kerja/hari

Rp

60.000

7

Harga bahan baku terung/kg

Rp

3.550

8

Harga gula pasir/kg

Rp

12.000

9

Harga botol kemasan & label/buah

Rp

1.500

10

Harga air per liter

Rp

125

11

Sewa tempat usaha/tahun

Rp

5.000.000

Sumber : Data Diolah

 

b). Biaya Investasi

Biaya investasi merupakan biaya tetap (fixed cost) yang dikeluarkan untuk melakukan pengolahan buah terung belanda menjadi produk olahan. Biaya investasi pengolahan terung belanda meliputi perijinan, sewa tempat usaha beserta  bangunannya, seperangkat mesin dan peralatan lainnya.

Jumlah biaya investasi yang dibutuhkan pada tahun ke-0 (sebelum usaha menghasilkan) sebesar Rp 80.000.000,00. Investasi tersebut berupa aktiva tetap dalam bentuk seperangkat mesin dan perlengkapannya  senilai Rp 50.000.000,00 yang bersumber dari bantuan dan investasi modal kerja yang bersumber dari modal sendiri Rp 42.800.000,00. Selama periode usaha, terdapat beberapa komponen biaya investasi yang harus melakukan reinvestasi pada tahun-tahun berikutnya, antara lain sewa tempat usaha  dan bangunan serta peralatan lainnya

c).  Biaya Operasional

Biaya operasional merupakan biaya yang dikeluarkan setelah usaha tersebut menghasilkan. Komponen biaya operasional dalam pengolahan terung belanda ini terlihat pada tabel berikut.

 

Tabel 2.  

Biaya Operasional usaha pengolahan terung belanda selama 1 tahun

 

No

Keterangan

Jenis Biaya

Tetap

Variabel

1

Terung belanda

 

    106.500.000,00

2

Gula pasir

 

    90.000.000,00

3

Asam nitrat

 

         450.000,00

4

Tenaga kerja lansung

 

  180.000.000,00

5

Tenaga administrasi

  14.000.000,00

 

6

Botol &label

 

    45.000.000,00

7

Kardus

 

      3.375.000,00

8

Administrasi

    2.500.000,00

 

9

Listrik

2.000.000,00

 

10

Telpon

       700.000,00

 

11

Pemeliharaan alat

  13.000.000,00

 

12

Pemasaran

  45.000.000,00

 

13

Air

 

      3.750.000,00

14

Sewa tempat dan bangunan

    5.000.000,00

 

15

Penyusutan

    2.900.000,00

 

 

Jumlah

  85.100.000,00

  425.575.000,00

   Sumber : data diolah

 

 

Total biaya operasional yang dibutuhkan setiap tahunnya sebesar Rp           512.675.000,00 Biaya variabel per satuannya selama periode analisis diasumsikan konstan termasuk juga biaya tetapnya secara total konstan karena kapasitas mesin masih belum sepenuhnya terpakai.

 

d).   Proyeksi Laba Rugi dan Break Even Point

Proyeksi penjualan rata-rata per tahunnya usaha pengolahan terung belanda sebesar Rp 600.000.000,00 sedangkan biaya rata-rata yang dikeluarkan per tahunnya mencapai  Rp  512.675.000,00. Dengan demikian proyeksi laba rugi rata-rata per tahun sebesar Rp  87.325.000,00  (lampiran 1 Proyeksi laba rugi per tahun) dengan rata-rata profit margin tiap tahun sebesar 10,91% per tahun dan BEP sebesar Rp  367.185.762,00  atau 18.359  liter (lampiran 2 Perhitungan BEP)

e).   Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan usaha

Arus kas usaha pengolahan terung belanda ini dapat dilihat pada lampiran 3. Dari proyeksi arus kas bersih dapat dilakukan perhitungan Pay Back Period (PBP), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan  Benefit/Cost Ratio (B/C Ratio).Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pengolahan buah terung belanda merupakan usaha yang menguntungkan karena pada tingkat bunga 16% per tahun, diperolah NPV Rp           90.839.787,58 dan IRR sebesar 49,38% B/C ratio 1,05 serta Payback period 1 tahun 2 bulan. Dari perhitungan diatas menunjukkan bahwa usaha pengolahan terung belanda layak untuk dilaksanakan dilihat dari aspek keuangannya. Hal ini dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Tabel 3.

 Kriteria Penilaian Investasi Tahun 2014

Kriteria

Penilaian

Hasil

Perhitungan

Patokan

Keterangan

Payback period

1 tahun 2 bulan

< 5 tahun (umur eko.)

Layak

Net present value

Rp   90.839.787,58

> 0

Layak

Internal rate of return

49,39%

>16%

Layak

Benefit Cost ratio (B/C)

1,05

> 1

Layak

Sumber : Data diolah

 

 

f).   Analisis Sensitivitas

Proyeksi penerimaan dan biaya didasarkan pada asumsi dan proyeksi yang memiliki ketidakpastian. Untuk itu diperlukan analisis sensitivitas untuk menguji seberapa jauh usaha yang dilaksanakan masih layak kalau terjadi  perubahan harga input maupun output.

Analisis sensitivitas yang dilakukan dengan menggunakan 2 skenario yaitu:

 Skenario I

Pendapatan mengalami penurunan sebesar 6% dan 7%, sedangkan  biaya operasional tetap. Penurunan pendapatan dapat terjadi karena harga jual produk olahan terung belanda  mengalami penurunan atau jumlah produksi tidak tercapai.

Skenario II

Biaya operasional mengalami kenaikan sebesar 7% dan 8%, sedangkan pendapatan dianggap tetap. Kenaikan biaya operasional dapat terjadi apabila harga input meningkat. Dalam hal ini komponen terbesar adalah biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja, maka biaya operasional sensitif terhadap kenaikan bahan baku terung belanda.

Hasil analisis terhadap ke dua skenario di atas diringkas pada tabel berikut ini.

Tabel 4.

Skrenario I pendapatan turun 6% dan 7% biaya operasional tetap tahun 2014

 

Kriteria

Penilaian

Pendapatan

Turun 6%

Pendapatan

Turun 7%

Patokan

Payback period

4 tahun  11 bulan

5 tahun  1 bulan

< 5 tahun

(umur eko.)

Net present value

Rp 2.433.858,94

Rp  (12.300.462,516)

> 0

Internal rate of return

17,02%

11,30%

>16%

Benefit Cost ratio (B/C)

1,01

0,98

> 1

Sumber: Data diolah

Pada skenario I, pada saat pendapatan turun sebesar 6% yang disebabkan oleh penurunan harga dengan tingkat bunga 16%, maka semua kriteria penilaian masih berada diatas patokan yang artinya usaha pengolahan terung belanda masih layak untuk dilaksanakan. Namum ketika pendapatan turun 7% maka usaha pengolahan terung belanda tidak layak diusahakan karena berada di bawah patokan.

 

 

 

 

 

Tabel 5

Skrenario II biaya operasional naik 7% dan 8% pendapatan tetap tahun 2014

 

Kriteria

penilaian

Biaya operasional

Naik  7%

Biaya operasional

naik8%

Patokan

Payback period

4 tahun  11 bulan

5 tahun  3 bulan

< 5 tahun

(umur eko.)

Net present value

Rp  2.710.741,39

Rp  (9.879.122,35)

> 0

Internal rate of return

17,17%

12,29%

>16%

Benefit Cost ratio (B/C)

1,0021

0,99

> 1

Sumber: Data diolah

Pada skenario II, biaya operasional mengalami kenaikan dengan asumsi  pendapatan tetap. Pada kenaikan biaya operasional sebesar 6%, diperoleh Net B/C Ratio lebih besar dari satu, NPV positif dan IRR mencapai lebih besar dari tingkat bunga dan payback period lebih pendek dari umur ekonomis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan suku bunga 16%, pada kenaikan biaya operasional sebesar 7% usaha ini masih layak dilaksanakan. Tetapi ketika kenaikan biaya mencapai 8% proyek ini tidak layak dilaksanakan karena berada di bawah patokan.